Abu memilih duduk disudut masjid, agak jauh dari sang guru. Dengan kitab kuning ditangan dan pen hi-tec berujung runcingnya, ia bersandar pada tembok. Sambil mendengarkan suara ustadz bukhori membaca dan memaknai kitab, tangannya siap dengan tangkas menyalin kata-demi kata ustadz bukhori ke kitabnya sendiri. Meski ia mendengar dan memperhatikan pengajian kitab kuning maaghrib itu. namun setengah fikirannya melayang-layang, merenung. Tahun itu adalah tahun ketiganya di pesantren. Namun ia merasa sangat resah. Pasalnya ia tak mendapat apa-apa disana selama ini. Bukan, bukan karena ia malas lalu banyak ilmu yang ia lewatkan sehingga ia tak mendapat apa-apa. Jangan ragukan keseriusannya, ia bangun sebelum subuh agar dapat berjamaah tepat di belakang imam. Setiap guru yang menjelaskan tak akan pernah luput dari perhatianya, setiap tugas tak pernah ia lewatkan apalagi gampangkan. Singkatnya tak banyak santri serajin ia. Namun demikian, entah kenapa ia acapkali gagal memahami dan mengerti pelajaran-pelajaran yang disuguhkan. Mungkinkah karena ia bodoh? rasanya tidak, sebelum kepesantren ia tak pernah diganjar peringkat dibawah 3 besar di sekolahnya. Abu gusar, ini tahun terakhirnya.
“Jadi, mondok iku juga harus dijaga opo-opo seng di pangan” suara wibawa ustadz bukhori membuyarkan lamunannya.
“Ojo sampek mangan barang yang gak jelas, apalagi jelas-jelas haram. Hal itu membuat susah mencari ilmu”. Ustadz bukhori menjelaskan makna dan maksud kitab kuning di tangannya.
Abu terperanjat, seolah olah ada sesuatu yang menyadarkannya ketika mendengar itu.
Tiba-tiba ia teringat pemandangan-pemandangan di rumahnya.
Bapaknya yang menerima tamu para pengusaha di rumah.
Tawa terbahak-bahak mereka.
Koper-koper yang berpindah tangan dari sang pengusaha ke bapaknya.
Kata-kata bapaknya yang sering terucap “itu bisa diatur pak…” “pasti beres…” “nanti saya atur…”
Abu seperti mendapat sebuah jawaban, ia bangkit, berdiri lalu berlari…
di sebuah rumah mewah
Tiba-tiba dering blackberry sang pejabat terdengar halus. dengan penasaran sang pejabat melirik BB tersebut. Ada nama anaknya tertera dilayar lengkap dengan fotonya.
Tak ada pilihan lain selain mengangkat telpon anak kesayangannya itu meski ia sedang ada pertemuan penting malam itu. Anaknya lebih penting dari segalanya.
“Ya, walaikumsalam. gimana kabar mu abu?” sang pejabat basa-basi.
“Baik pak, pak.. abu mau tanya” suara di sebraang sangat to the point.
“Apa? ko gak biasanya..” sang pejabat penasaran.
“Bapak sayang abu?”
“Pertanyaan macam apa itu?. Kamu anakku satu-satunya. Aku dan ibumu hidup untukmu nak..” Sang pejabat menjawab dengan bingung.
“Terimakasih, aku juga sayang bapak dan ibu. Kalu begitu mulai sekarang abu gak usah dikirimi apa-apa. abu mau mandiri…” suara sang anak tegas.
“Loh.. kenapa? kok tiba-tiba?” sang pejabat tambah bingung.
“Gitu aja dulu pak, abu mau ngaji lagi… banyak yang harus abu ulang ngajinya. minta doanya saja.”
“Abu! abu!” kebingungan sang pejabat memuncak.
“Cklik, tut..tut..” suara telepon terputus.
Di depan sang pejabat seorang pengusaha yang siap menyerahkan koper berisi milyaran rupiahkepada sang pejabat ikut bingung……


