[CATPER]: Pendakian Gunung Slamet (Selamat di gunung Slamet)

Gunung Slamet merupakan gunung berapi aktif yang berlokasi di Jawa Tengah. Dengan ketinggian 3428 mdpl, Gunung Slamet  merupakan gunung tertinggi di Jawa Tengah, dan Gunung tertinggi ke-2 di  Pulau Jawa setelah Gunung Semeru di Jawa Timur.

Berbagai macam mitos dan cerita misteri di gunung ini tak lantas bikin Gunung Slamet jadi sepi pendaki. Keindahan alam dan jalur yang menantang menjadikan gunung ini cukup ramai dikunjungi para pendaki gunung.

Untuk mendaki gunung Slamet bisa di tempuh dengan beberapa jalur pendakian, diantaranya  jalur Bambangan,  jalur Baturaden,  jalur Kali Wadas,  jalur Guci. Tapi untuk kali ini saya bersama tim menggunakan jalur Bambangan, jalur ini merupakan jalur yang paling sering dilalui pendaki.

Berangkat…!!!!

Tim pendakian Gunung Slamet kali ini berjumlah 13 orang dan didominasi cewek. Tim yang beranggotakan Saya, Alki, Adhi, Irlan, Try, Maria, Angga (ini cewek), Alfie, Nora, Wida, Feby, Dwi, Desti  berangkat dari Jakarta menuju ke Bambangan Jumat malam. Desa Bambangan sendiri terletak di Purbalingga, untuk kesana bisa menggunakan bus umum lalu disambung dengan mobil bak menuju desa Bambangan. Tapi kali ini kami menyewa elf dari Jakarta langsung ke Bambangan PP. Gak banyak yang bisa diceritain diwaktu keberangkatan. Standarlah… janjian jam segini datengnya jam segitu, nunggu si ini nunggu si itu, naik mobil terus tidur.

Ini termasuk salah satu pengalaman nanjak paling enak buat saya, karna gak harus nyetop bus atau empet-empetan di mobil pickup kayak biasanya dan gak perlu gendong-gendong tenda dan perkakas dapur yang sudah disiapkan tim porter-porter tangguh yang sudah menunggu kami di Bambangan. Tim porter, iya.. tim… karna porternya rame, gak cuma satu, yang diakhir cerita tim porter inilah juga yang membantu kami semua selamat di Slamet. Singkat cerita, perjalanan dari Jakarta ke Bambangan memakan waktu sekitar 11 jam, termasuk macet keluar Jakarta dan nyasar-nyasar sebelum Desa Bambangan.

 

Pendakian Hari ke-1

Waktu menunjukkan pukul 06.55WIB ketika kami sampai di basecamp Pondok Pemuda (basecamp Slamet) langsung dilanjutkan dengan sarapan di warung makan yang tersedia di sekitar basecamp.

basecamp Pondok Pemuda
basecamp Pondok Pemuda

 

No penting basecamp Bambangan
No penting basecamp Bambangan

 

Ternyata, waktu pendakian kami di gunung Slamet ini bertepatan dengan malam 1 Suro. Biasanya di beberapa Gunung Jawa Tengah, seperti Merapi dan Lawu ada semacam acara atau ritual yang dilakukan oleh warga sekitar. Tapi sepertinya tidak ada tanda- tanda seperti itu di gunung Slamet. Setelah packing ulang, bertemu tim porter (Tim Kang Kantong) dan mengurus simaksi yang biayanya Rp 5000/orang, akhirnya kami memutuskan untuk segera memulai…. foto-foto.

 

 

tim pendakian gunung slamet
Anggota (masih) lengkap

 

Pendakian dimulai sekitar pukul 08.40 yang diawali dengan melewati ladang milik warga sebelum kemudian masuk ke daerah vegetasi yang masih agak terbuka.

ladang di gunung slamet
Ladang bawang

Perjalanan dari basecamp ke pos 1 merupakan yang terpanjang, dibutuhkan waktu sekitar 2 jam untuk sampai ke pos 1. Kami sempat berhenti sejenak di pos bayangan sebelum pos 1 untuk menikmati semangka yang dijual oleh warga. Diakhir pekan, hampir disetiap pos tersedia penjual makanan dan minuman (pos 1,2,3,5,7). Jadi gak usah khawatir lapar dan haus selama perjalan, tapi warung-warung ini hanya buka sampai pukul 5 sore saja, dan dihari biasa warung hanya dapat dijumpai di pos 1. Di pos 1 Pondok Gembirung kami juga sempat ngeteh dan nyusu dulu sebelum melanjutkan perjalanan. Apalagi susah rasanya menolak godaan gorengan disuasana seperti ini. Terdapat gubuk yang cukup luas di pos ini, yang bisa juga dipakai untuk beristirahat para pendaki.

Pos 1 Pondok Gembirung
Pos 1 Pondok Gembirung

 

Setelah tenaga cukup terisi, kami melanjutkan perjalanan ke pos 2. Perjalanan ke pos 2 sudah memasuki kawasan hutan yang cukup lebat, membuat suasana perjalanan cukup sejuk karena sinar matahari tertutup pohon-pohon. Butuh waktu 1 jam untuk sampai di pos 2 Pondok Walang. Di pos ini juga ada beberapa penjual makanan yang standby. Saya , alki dan try istirahat cukup lama di sini. Sembari menunggu anggota tim yang lain sampai d pos 2, alki dan try menyempatkan diri untuk sholat lalu kami bertiga makan siang dan nge-teh dulu. Selama perjalanan memang kami bertiga jalannya paling depan, anggota tim yang lain menyusul di belakang.

 

Pos 2 gunung slamet
Abang gorengan

Setelah menunggu sekitar 1 jam, akhirnya anggota tim yang lain muncul juga. Karena kami bertiga sudah mulai kedinginan, saya, alki dan try memutuskan melanjutkan perjalanan duluan. Perjalanan ke pos 3 mulai terasa lebih berat dari sebelumnya. Treknya masih berupa hutan, namun lebih terjal dari sebelumnya. Di antara pos 2 ke pos 3 ini terdapat persimpangan dari jalur pemalang. Berhati-hatilah ketika perjalanan pulang kembali ke basecamp, jangan sampai salah jalur . 1 jam perjalanan akhirnya sampai juga di pos 3 Pondok Cemara. Ada tempat yang cukup buat mendirikan tenda di pos ini, sehingga bisa jadi alternatif jika ingin bermalam di pos 3, dan tentunya ada yang jualan makanan juga.

hutan gunung Slamet
hutan gunung Slamet

Lanjut ke pos 4 Samaranthu yang konon katanya pos paling angker di Gunung Slamet. Cerita yang beredar, pendaki juga tidak disarankan untuk bermalam di pos ini, kenapa? Saya juga kurang tau. Hanya butuh 40 menit dari pos 3 untuk sampai pos Samaranthu, tapi sepertinya anggota tim yang lain juga semakin tertinggal jauh, dan dari pembicaraan terakhir di pos 2 , adhi, alfie dan irlan posisinya paling belakang juga belum kelihatan. Awalnya kami berencana untuk bermalam di pos 7, namun melihat kondisi cuaca yang juga mulai gerimis dan jarak antar tim  yang cukup jauh, saya, alki dan try memutuskan untuk menunggu di pos 5 Samyang Rangkah.

Benar saja, 10 menit sebelum sampai pos 5 turun hujan deras. Ya memang bulan Oktober sudah memasuki musim hujan, jadi mau gak mau harus mempersiapkan diri untuk kehujanan. Untungnya di pos 5 ini juga terdapat pondok seperti yang ada di pos 1, saya dan beberapa pendaki yang terjebak hujan berteduh dulu di pondok ini.
Cukup lama sampai akhirnya hujan reda, feby dan beberapa tim kang Kantong  sampai juga di pos 5 disusul dengan anggota tim yang lain. Hari mulai gelap, tapi tim adi, alfie dan irlan belum juga terlihat, sampai akhirnya ada yang mengabari kalau mereka tertahan di antara pos 3- pos 4 karena alfie kondisinya drop dan mengalami masalah pernapasan. Irlan akhirnya sampai di pos 5 , tinggal adi dan alfie dibelakang. Beruntung tim kang Kantong bersedia naik turun pos 5- pos 3 untuk membantu adi dan alfie.

 

Pendakian Hari ke-2
Perjalanan menuju puncak Slamet belum selesai. Pukul 04.25 pagi beberapa dari kami melanjutkan perjalanan ke puncak, sisanya memutuskan tinggal di pos 5 karena kondisi fisik yang juga tidak memungkinkan sambil terus memantau kabar dari bawah. Sebenarnya sudah agak kesiangan jika summit jam segini, idealnya paling tidak jam 03.00 sudah berangkat dari pos 5 kalau mau menikmati sunrise di puncak.
Masih ada beberapa pos lagi yang harus dilewati sebelum sampai ke puncak dan trek nya semakin terjal. 15 menit berjalan dari pos 5 kami sudah sampai di pos 6 Samyang Katebonan, 20 menit kemudian pos 7. Sinar matahari sudah mulai muncul dan kami berhenti untuk menikmati sunrise disini.

Sindoro, Sumbing, Merapi
Sindoro, Sumbing, Merapi dari kejauhan (yang foto mas Try lho)

 

Melewati pos 7 areanya mulai terbuka, pemandangan luas di sekitar gunung Slamet mulai terlihat. Hanya butuh waktu 10 menit untuk sampai ke pos 8 kemudian 20 menit untuk sampai ke Plawangan, batas akhir vegetasi. Plawangan ditandai plang besar yang (harusnya) berwarna orange sebagai tanda batas vegetasi.

Plawangan, batas vegetasi
Plawangan, batas vegetasi

 

Selepas Plawangan treknya semakin menantang berupa pasir dan bebatuan sedimentasi lahar. Butuh waktu sekitar 1 jam untuk sampai ke puncak Slamet.

Jalur bebatuan menuju puncak gunung Slamet
Jalur bebatuan menuju puncak gunung Slamet

 

Di puncak Slamet para pendaki akan disuguhi pemandangan kaldera yang cukup luas yang disebut Segoro Wedi, sayangnya tak lama sampai di puncak cuaca jadi berkabut sehingga kaldera dan pemandangan di sekeliling gunung tertutup kabut tebal.

Tim yang sampai puncak Slamet
Tim yang sampai puncak Slamet

 

Tim yang sampai puncak Slamet
Niup balonnya perjuangan, jadi fotonya harus dipasang

 

Setelah puas menikmati puncak (baca:foto-foto), kami bergegas turun karna kabut yang makin tebal. Di pos 9 hujan kembali turun hingga kami kembali sampai di pos 5. Hujan kali ini awet, sampai jam 12.00 belum ada tanda-tanda akan berhenti hingga kami memutuskan untuk nekat turun karena takut kemalaman dan juga kabar dari bawah kalo kondisi alfie semakin memburuk dan butuh dievakuasi. Sampai di tempat adi dan alfie, kami berhenti sejenak untuk melihat keadaan alfi yang memang sudah mengkhawatirkan. Sayangnya sempat terjadi miskomunikasi antara tim kami dan tim SAR yang membuat evakuasi tim SAR agak terlambat. Tim akhirnya dibagi menjadi dua, sebagian tinggal untuk menemani dan memberi support bersama tim kang kantong yang sudah sejak kemarin malam menjaga alfie, sembari menunggu tim evakuasi yang sedang dalam perjalanan. Saya membawa 4 anggota cewek untuk turun lebih dahulu, mengingat hari semakin gelap dan cuaca tak kunjung membaik.
Jalan kembali ke basecamp memang semakin becek dan licin karena hujan, belum lagi kebanyakan jalan yang dilewati merupakan jalur air. Sekitar pukul 18.30, saya dan tim yang turun duluan sudah sampai di basecamp. Tak lama berselang tim SAR pun juga sampai dan berhasil mengevakuasi alfie yang sudah tidak sadarkan diri, dan langsung dibawa ke rumah sakit Purbalingga. Kondisi Alfie akhirnya mulai membaik setelah dirawat di rumah sakit. Sekali lagi terimakasih kepada tim Kang Kantong dan tim SAR gunung Slamet.

Setelah semua anggota tim sampai di basecamp, bersih-bersih dan makan, kami ke rumah sakit terlebih dahulu sebelum kemudian melanjutkan perjalanan ke Jakarta. Yah , walaupun perjalanan ini mungkin tak semulus yang direncanakan, tapi yang penting semua anggota tim pendakian akhirnya bisa kembali ke rumah dengan selamat, selamat di Slamet :).

Selamat di Slamet

Karena hal yang paling penting dari mendaki gunung bukanlah sampai di puncak gunung, tapi bisa kembali ke rumah dengan selamat, kembali berkumpul dan berbagi cerita dengan orang yang kita sayangi.

Catatan :
–    Estimasi waktu (waktunya saya,jalannya santai, diluar waktu istirahat dan makan gorengan di pos ya):
Basecamp – Pos1 = 2 jam
Pos1 – Pos2 = 1 jam
Pos2 – Pos3 = 1 jam
Pos3 – Pos4 = 40 menit
Pos4 – Pos5 = 1 jam
Pos5 – Pos6 = 15 menit
Pos6 – Pos7 = 20 menit
Pos7 – Pos8 = 10 menit
Pos8 – Plawangan = 20 menit
Plawangan – Puncak Slamet = 1 jam
–    Jika mendaki di musim hujan, yang pasti persiapkan diri untuk kehujanan, jangan lupa bungkus sleeping bag dan pakaian ganti dengan plastik. Akan lebih baik bawa baju ganti lebih kemudian dititip di basecamp, jaga-jaga baju yang dibawa basah semua.
–    Jika mendaki dimusim panas, jalur pendakian Slamet akan berdebu. Ada baiknya bawa masker atau buff.
–    Persiapkan uang, karena banyak penjual makanan dan minuman di sepanjang perjalanan, jadi siapkan uang buat beli teh hangat atau pisang ukuran jumbo untuk mengembalikan tenaga.
–    Persiapkan fisik dan mental, bukan hanya di gunung Slamet, tapi di Gunung manapun juga, persiapan fisik sebelum mendaki sangat penting.

 

Post Author: jadiapa

Suka menghayal

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
wpDiscuz